Connect with us

Feature

Menjadi CEO Startup Tidak Cukup Hanya Gaya

Menjadi CEO Startup Tidak Cukup Hanya Gaya

Published

on

Photo: Istimewa

FINROLL.COM,

Siapa sih yang tak mau jadi CEO (chief executive officer) alias orang nomor satu di perusahaan? Bukan mustahil itu terjadi apalagi kalau Anda memutuskan bikin perusahaan sendiri. Dan itulah yang terjadi dewasa ini. Seiring semakin banyaknya startup, makin banyak pula anak-anak muda pendiri startup yang menjabat CEO.

Setiap orang berpikir menjadi CEO sebuah startup merupakan pekerjaan yang keren atau sangat menyenangkan. Tetapi, menjadi  CEO tentu bukanlah suatu pekerjaan mudah. Terlebih CEO untuk sebuah startup yang memerlukan banyak sekali waktu, tenaga, dan pikiran untuk benar-benar mewujudkan suatu produk yang mampu sustain dan menghasilkan profit.

Beberapa CEO hadir dari latar belakang pekerja yang telah menggeluti dunia bisnis dalam bidang yang memang ditekuninya. Tetapi, tak sedikit pula yang memutuskan menjadi entrepreneur sejak awal tanpa menekuni satu bidang pekerjaan tertentu dengan orang lain.

Di Indonesia sendiri sudah ada pemuda lainnya yang sukses menjalankan usaha startup di usia muda, sebut saja William Tanuwijaya melalui Tokopedia yang menjadi panutan karena berhasil mendapat investasi sebesar USD 100 juta (Rp 1,2 triliun) di 2014 lalu.

Atau founder BukaLapak Achmad Zaky yang sukses meraih nilai transaksi lebih dari Rp 1 triliun di 2014 dan empat kali mendapat investasi untuk startup-nya di usia yang tergolong muda.

Contoh lainnya adalah, M. Alfatih Timur, di balik KitaBisa.com ada nama seorang M. Alfatih Timur yang baru berusia 24 tahun. M. Alfatih Timur yang biasa dipanggil Timmy membangun sebuah platform crowdfunding atau patungan. Cerita awal Kitabisa.com adalah kesadaraan Timmy akan budaya gotang royong di Indonesia. Crowdfunding yang baru – baru ini sukses adalah masyarakat Indonesia membantu pembelian salah satu gedung di Chiba untuk dijadikan masjid pertama di kota ini.

Atau, Iman Usman, dikenal sebagai seorang pemuda yang cukup vokal di berbagai kegiatan sosial. Berbekal dari minat dan perhatiannya terhadap kegiatan sosial khususnya di bidang pendidikan Iman akhirnya membangun Ruang Guru.Ruang Guru adalah sebuah situs yang menjadi jembatan di bidang teknologi pendidikan. Situs ini juga menyediakan solusi untuk orang tua yang ingin mencari guru privat untuk buah hati.

Anak-anak muda diatas bukti hidup bagaimana sebuah startup bisa mengantar anak muda di level sukses yang tidak semua orang bisa meraihnya dalam waktu singkat. Tetapi untuk diketahui juga, banyak startup di dalam negeri yang gagal.

Dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya Indonesia menempati posisi negara dengan jumlah startup tertinggi yang mencapai lebih dari dua ribu startup. Dan seperti yang kita dalam penelusuran internet nama-nama yang muncul orang yang itu saja atau 4L alias lu lagi lu lagi.

Menurut laporan CBInsights, sebagian besar startup gagal karena mereka tidak dapat melayani apa yang dibutuhkan oleh pasar. Sebanyak 42 persen dari 101 tulisan dari para founder perusahaan startup menyatakan hal tersebut.

Sementara itu, 29 persen menyebutkan bahwa banyak dari perusahaan startup kehabisan dana. Sisanya bervariasi, mulai dari tim yang tidak tepat, produk yang buruk, tersingkir oleh pesaing yang lain, hingga gagal melakukan pivot.

Dalam kasus startup di Indonesia, analisis dari laporan CBInsights itu terbukti. Banyak perusahaan startup yang gagal di Indonesia memiliki konsep bisnis yang terfokus pada "menyelesaikan masalah yang menarik untuk diselesaikan," bukan memfokuskan pada apa yang dibutuhkan oleh pasar.

Dari sini bisa ditarik kesimpulan, menjadi CEO dan menjalankan sebuah startup wajib mempunyai keahlian, bukan sekedar gaya-gayaan.

Mark Pincus, CEO Zynga menekankan untuk tidak menjadi CEO palsu. Dalam jangka pendek, mengkhawatirkan suatu hal yang bisa memberikan hasil yang tidak akan memberikan ketenaran.

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet ut et voluptates.

Trending Stories